Mengapa Houthi Serang Bandara-bandara Arab Saudi? Ini 5 Alasan di Balik Eskalasi Konflik

RIYADH, YAMAN – Kelompok Houthi di Yaman meningkatkan serangan terhadap sejumlah bandara di Arab Saudi di tengah memanasnya kembali konflik antara kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran tersebut dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh. Serangan ini diduga menjadi bagian dari strategi balasan militer sekaligus upaya menekan Arab Saudi agar mengubah kebijakannya dalam konflik Yaman.
Dalam perkembangan yang dilaporkan media internasional pada 12–14 Oktober 2026, sejumlah fasilitas penerbangan Saudi menjadi sasaran serangan rudal dan pesawat nirawak atau drone. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Abha, serta fasilitas penerbangan di Jazan dan Najran termasuk lokasi yang dilaporkan terdampak dalam gelombang serangan sebelumnya. Menurut laporan Al Jazeera dan Reuters, eskalasi tersebut berlangsung ketika pertempuran di Yaman kembali meningkat setelah gencatan senjata yang sebagian besar bertahan sejak 2022 mengalami keruntuhan. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali melancarkan operasi terhadap wilayah yang dikuasai Houthi, terutama di kawasan strategis pesisir Laut Merah.
Lantas, apa sebenarnya alasan Houthi menyerang bandara-bandara Arab Saudi?
1. Membalas Dukungan Saudi terhadap Pemerintah Yaman
Salah satu alasan utama serangan Houthi adalah keterlibatan Arab Saudi dalam konflik Yaman. Riyadh selama bertahun-tahun mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, sementara Houthi berusaha mempertahankan kekuasaan atas Sanaa dan sejumlah wilayah di bagian barat laut negara tersebut. Bagi Houthi, dukungan militer Saudi terhadap pasukan pemerintah Yaman merupakan ancaman langsung terhadap posisi mereka. Karena itu, serangan ke wilayah Saudi dipandang kelompok tersebut sebagai bentuk pembalasan atas operasi militer yang menargetkan posisi mereka di Yaman.
Reuters melaporkan bahwa gelombang serangan terhadap bandara Saudi meningkat seiring dengan kembali intensifnya pertempuran antara kedua kubu. Namun, alasan yang disampaikan Houthi merupakan klaim dari pihak yang terlibat konflik. Serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil tetap menimbulkan risiko besar bagi penumpang, pekerja bandara, dan masyarakat yang tidak terlibat dalam pertempuran.
2. Membalas Serangan terhadap Bandara Sanaa
Faktor lain yang memperburuk ketegangan adalah serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi. Pada Juli 2026, serangan udara yang dilakukan pasukan pemerintah Yaman dengan dukungan Saudi menghantam fasilitas bandara tersebut. Pemerintah Yaman menyatakan operasi itu bertujuan mencegah pendaratan pesawat Iran yang dianggap tidak memiliki izin. Houthi kemudian mengancam akan membalas dengan menyerang bandara dan kepentingan vital Arab Saudi. Kelompok itu juga memperingatkan maskapai penerbangan agar menghindari wilayah udara Saudi.
Dalam pernyataan yang diberitakan ANTARA pada 12 Oktober 2026, juru bicara militer Houthi Yahya Sarea kembali menegaskan ancaman terhadap bandara dan wilayah udara Saudi, dengan pengecualian yang mereka nyatakan untuk bandara di Makkah dan Madinah. Sikap tersebut memperlihatkan bagaimana serangan terhadap infrastruktur penerbangan di kedua pihak berkembang menjadi pola aksi dan balasan yang semakin berbahaya.
3. Menekan Arab Saudi melalui Infrastruktur Strategis
Serangan terhadap bandara juga memiliki dimensi politik dan ekonomi. Bandara internasional merupakan bagian penting dari jaringan transportasi, perdagangan, pariwisata, serta mobilitas bisnis Arab Saudi. Analis konflik Hisham al-Omeisy dari European Institute of Peace, sebagaimana dikutip Al Jazeera dan detikNews, menilai Houthi berupaya meningkatkan tekanan terhadap Riyadh untuk memperoleh konsesi dalam konflik yang berlangsung. Serangan terhadap fasilitas strategis dapat menimbulkan gangguan luas meskipun dampak militernya tidak selalu sebanding dengan besarnya kerusakan yang terjadi. Penutupan bandara, pengalihan penerbangan, pembatalan perjalanan, serta meningkatnya premi asuransi berpotensi menimbulkan biaya ekonomi yang besar.
Arab Saudi selama ini berupaya memperkuat citranya sebagai pusat investasi, pariwisata, dan penyelenggara acara internasional. Gangguan keamanan di bandara utama dapat merusak kepercayaan pelaku usaha dan wisatawan terhadap stabilitas negara tersebut. Meski demikian, penilaian mengenai tujuan strategis Houthi ini merupakan analisis pengamat, bukan bukti bahwa seluruh dampak ekonomi tersebut menjadi sasaran resmi kelompok itu.
4. Memanfaatkan Posisi Strategis Konflik Laut Merah
Pertempuran di sekitar pesisir Laut Merah turut memperbesar risiko konflik. Kawasan sekitar Mocha, Dhubab, dan Selat Bab al-Mandab memiliki arti penting bagi jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur pelayaran penting bagi perdagangan global, termasuk pengangkutan energi. Ketegangan di kawasan ini dapat memengaruhi keamanan kapal dagang, biaya pengiriman, dan jalur ekspor minyak.
Reuters dalam analisisnya pada 7 Oktober 2026 menyoroti kembalinya Arab Saudi ke konflik Yaman dan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur serta jalur ekspor energi kerajaan tersebut. Dalam situasi seperti ini, serangan terhadap bandara Saudi menjadi bagian dari konflik yang lebih luas, ketika kedua pihak berusaha meningkatkan tekanan militer dan strategis terhadap lawannya. Namun, serangan terhadap bandara tidak dengan sendirinya membuktikan adanya tujuan untuk menguasai jalur pelayaran. Hubungan antara kedua perkembangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari eskalasi regional yang saling berkaitan.
5. Menunjukkan Kemampuan Militer dan Menekan Pertahanan Saudi
Houthi juga berupaya menunjukkan bahwa mereka mampu menjangkau sasaran jauh di dalam wilayah Arab Saudi menggunakan rudal dan drone. Serangan terhadap sejumlah fasilitas penerbangan menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pertahanan udara Saudi dalam menghadapi serangan berulang. Arab Saudi memiliki sistem persenjataan modern, tetapi melindungi wilayah yang luas dan banyak fasilitas strategis dari serangan dengan berbagai arah merupakan tantangan tersendiri.
Menurut analisis yang dikutip sejumlah media internasional, Houthi telah mengembangkan kemampuan perang asimetris melalui pengalaman konflik selama bertahun-tahun. Penggunaan rudal dan drone memungkinkan kelompok tersebut memberikan tekanan militer tanpa harus berhadapan langsung dengan seluruh kekuatan konvensional Saudi. Akan tetapi, keberhasilan atau kegagalan pencegatan setiap serangan harus dinilai berdasarkan data masing-masing insiden. Tidak semua serangan yang dilaporkan otomatis berarti pertahanan udara Saudi gagal sepenuhnya.
Eskalasi konflik membawa dampak langsung terhadap keselamatan masyarakat. Al Jazeera melaporkan bahwa serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menyebabkan korban jiwa dan luka-luka dalam beberapa insiden pada Oktober 2026. Sejumlah penerbangan juga terdampak oleh penangguhan operasional dan pembatasan perjalanan. Gangguan penerbangan berpotensi memengaruhi perjalanan bisnis, kegiatan diplomatik, distribusi barang, serta mobilitas penumpang internasional. Maskapai harus mempertimbangkan risiko keamanan sebelum memutuskan melanjutkan, mengalihkan, atau membatalkan penerbangan.
Di Yaman, situasi yang memburuk juga menimbulkan kekhawatiran mengenai akses bantuan kemanusiaan dan keselamatan warga sipil. Infrastruktur transportasi, termasuk bandara, memiliki fungsi penting bagi pergerakan masyarakat, tenaga medis, pekerja kemanusiaan, serta bantuan darurat. Hukum humaniter internasional mewajibkan pihak-pihak yang berperang membedakan sasaran militer dari penduduk sipil dan objek sipil. Bandara sipil pada prinsipnya merupakan objek sipil, kecuali dan selama memenuhi kriteria sebagai sasaran militer menurut hukum yang berlaku. Serangan yang membahayakan warga sipil harus dinilai berdasarkan keadaan dan bukti masing-masing kejadian.
Peningkatan serangan Houthi terhadap bandara-bandara Arab Saudi menunjukkan bahwa konflik Yaman kembali memasuki fase berbahaya. Perselisihan yang sebelumnya berpusat pada perebutan kekuasaan di Yaman kini berpotensi menimbulkan dampak lebih luas terhadap penerbangan, perdagangan, energi, dan stabilitas kawasan Teluk. Bagi Houthi, serangan tersebut dikaitkan dengan pembalasan atas operasi militer dan tekanan Saudi terhadap wilayah yang mereka kuasai. Bagi Riyadh, serangan berulang terhadap fasilitas strategis meningkatkan tekanan untuk memperkuat pertahanan dan menentukan bentuk respons militer berikutnya.
Jika serangan balasan terus berlanjut, risiko terhadap warga sipil dan infrastruktur penting dapat semakin besar. Upaya diplomatik, perlindungan penduduk sipil, serta pembukaan kembali jalur komunikasi menjadi faktor penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Untuk saat ini, alasan utama yang muncul dari berbagai laporan adalah kombinasi pembalasan militer, tekanan politik terhadap Riyadh, dan upaya meningkatkan posisi tawar Houthi dalam konflik Yaman. Meski demikian, tujuan strategis kelompok tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari satu pernyataan atau satu serangan, sehingga perkembangan berikutnya tetap perlu dipantau melalui sumber-sumber resmi dan laporan independen.