Politik

Survei SMRC: Skor Kepemimpinan Dedi Mulyadi, Ahok, dan Anies

Survei SMRC: Skor Kepemimpinan Dedi Mulyadi, Ahok, dan Anies

BANDUNG — Survei Opinion Leaders Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode September 2026 menempatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan Anies Baswedan dalam kelompok tokoh dengan penilaian kualitas kepemimpinan yang relatif tinggi. Ketiganya memperoleh skor rata-rata 7,0 dari skala 10 berdasarkan penilaian terhadap sejumlah indikator kepemimpinan nasional.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena survei ini tidak hanya menilai popularitas tokoh, tetapi juga melihat berbagai aspek kualitas kepemimpinan, termasuk kapabilitas, empati, integritas, penerimaan publik, pluralisme, serta komitmen terhadap demokrasi dan kesejahteraan masyarakat.

Skor Kepemimpinan Dedi Mulyadi, Ahok, dan Anies Baswedan

Dalam studi SMRC yang mengukur 31 tokoh nasional melalui 11 indikator, Dedi Mulyadi memperoleh skor rata-rata 7,0. Nilai tersebut setara dengan Ahok dan Anies Baswedan.

Meski skor keseluruhan mereka sama, hasil penilaian pada indikator tertentu menunjukkan perbedaan. Pada aspek kemampuan memimpin, Ahok memperoleh skor 7,4, Dedi Mulyadi 7,3, dan Anies Baswedan 7,1. Indikator ini menilai persepsi responden terhadap kemampuan tokoh untuk bekerja, bersikap tegas, serta mengambil keputusan.

Mahfud MD mendapatkan skor tertinggi dalam indikator kemampuan memimpin, yakni 7,6. Sementara itu, Prabowo Subianto memperoleh 5,5 dan Gibran Rakabuming Raka 4,3 pada aspek yang sama.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap tokoh politik dapat bervariasi menurut aspek yang diukur. Skor rata-rata keseluruhan tidak selalu sama dengan nilai pada satu indikator khusus.

Dedi Mulyadi Masuk Kelompok Tokoh dengan Penilaian Positif

Dedi Mulyadi menjadi salah satu tokoh yang mendapat perhatian dalam survei kepemimpinan SMRC. Pengalamannya di lembaga legislatif dan pemerintahan menjadi bagian dari latar belakang yang kerap dibahas dalam penilaian terhadap kapasitas kepemimpinannya.

Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi dikenal luas melalui aktivitasnya di ruang publik dan pendekatan komunikasi yang dekat dengan masyarakat. Namun, survei SMRC tersebut secara khusus mengukur penilaian para responden terhadap kualitas kepemimpinan, bukan menghitung jumlah pemilih yang akan memberikan suara kepadanya dalam pemilihan umum.

Karena itu, skor 7,0 tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai elektabilitas 70 persen. Kedua ukuran tersebut berbeda: kualitas kepemimpinan dinilai melalui sejumlah indikator, sedangkan elektabilitas mengukur kecenderungan pilihan pemilih dalam konteks pemilihan tertentu.

Ahok Unggul pada Indikator Kemampuan Memimpin

Ahok memperoleh skor 7,4 pada indikator kemampuan memimpin, lebih tinggi dibandingkan Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan dalam aspek tersebut. Penilaian ini berkaitan dengan persepsi responden mengenai ketegasan, kemampuan bekerja, dan kecakapan mengambil keputusan.

Dalam survei yang sama, Ahok juga masuk kelompok tokoh dengan skor rata-rata keseluruhan 7,0. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa penilaian terhadap kepemimpinan Ahok tetap menjadi bagian dari perbandingan kualitas sejumlah figur nasional.

Meski demikian, skor survei bukan penilaian mutlak terhadap kinerja seseorang. Hasilnya mencerminkan pandangan kelompok responden berdasarkan indikator dan metode yang digunakan dalam penelitian.

Skor Kualitas Kepemimpinan: KDM Bersaing Ketat di Kelompok 7,0

Studi bertajuk Opinion Leaders: Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif yang dipaparkan pada Kamis (15/10/2026) melibatkan 200 responden yang terdiri dari 166 akademisi dan 34 jurnalis . Dalam penilaian terhadap 31 tokoh nasional menggunakan skala 0 hingga 10, Dedi Mulyadi memperoleh skor rata-rata 7,0.

Angka tersebut menempatkan Dedi sejajar dengan Ahok dan Anies Baswedan yang juga meraih skor 7,0, serta beberapa nama lain seperti Pramono Anung dan Zainal Arifin Mochtar . Sementara itu, posisi puncak dalam studi kualitas kepemimpinan ini diisi oleh Mahfud MD dengan skor 7,6 .

Menariknya, pendiri SMRC Saiful Mujani memberikan catatan khusus terhadap Dedi Mulyadi. Ia menilai Dedi memiliki keistimewaan berupa kedekatan yang kuat antara penilaian positif dari para elite intelektual dengan preferensi masyarakat umum di akar rumput. Hal ini sejalan dengan tingkat kesukaan publik terhadap Dedi yang disebut berada di atas 90 persen .

Dalam rincian indikator, Dedi Mulyadi menempati peringkat kedua pada aspek kapabilitas atau kompetensi dengan skor 7,1, hanya berada di bawah Mahfud MD. Pada indikator kemampuan memimpin, ia mencetak skor 7,3 

Elektabilitas: KDM Puncaki Simulasi, Anies dan Ahok di Posisi Berbeda

Selain studi opinion leaders, SMRC juga merilis hasil survei elektabilitas nasional yang dilakukan pada periode 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden dan margin of error sekitar 2,9 persen .

Dalam simulasi semi-terbuka yang menyodorkan 24 nama kandidat, Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan elektabilitas 35,5 persen . Posisi kedua diisi oleh Anies Baswedan dengan perolehan 10,3 persen, disusul Presiden Prabowo Subianto di angka 9,8 persen .

Sementara itu, nama Ahok tidak muncul dalam jajaran atas daftar elektabilitas hasil survei periode Oktober ini. Fokus temuan elektabilitas SMRC lebih menyoroti persaingan antara KDM, Anies, dan Prabowo, di mana elektabilitas KDM tercatat mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode-periode sebelumnya .

Survei SMRC Melibatkan 200 Akademisi dan Jurnalis

Survei Opinion Leaders SMRC periode September 2026 melibatkan 200 responden, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dan 34 jurnalis. Para responden diminta memberikan penilaian terhadap 31 tokoh nasional menggunakan skala 0 hingga 10.

Penilaian dilakukan melalui 11 indikator, antara lain kapabilitas, empati, integritas, akseptabilitas, pluralisme dan inklusivitas, kemampuan memimpin, serta komitmen terhadap demokrasi dan kesejahteraan umum.

SMRC menggunakan teknik snowball sampling karena tidak tersedia daftar populasi opinion leaders secara nasional yang dapat dijadikan kerangka pengambilan sampel acak. Oleh sebab itu, hasil survei bersifat deskriptif dan menggambarkan penilaian responden yang terlibat, bukan mewakili seluruh akademisi, jurnalis, atau masyarakat Indonesia.

Perbedaan metode dan kelompok responden tersebut penting diperhatikan ketika membaca hasil survei SMRC tentang Dedi Mulyadi, Ahok, dan Anies Baswedan. Angka yang dirilis merupakan skor penilaian kualitas kepemimpinan, bukan persentase dukungan pemilih dalam kontestasi politik.

Berita terkait

1 berita

Ruang diskusi

Masuk dengan Google

Memuat ruang diskusi…